Selamat Datang

Senin, 05 Desember 2011

Kenal Islam, Sayang Islam

Untuk mengenal sahabat kita lebih dekat lagi, maka perlu pengorbanan dari kita untuk berusaha mengenalinya lebih dalam lagi. Untuk kenal Islam lebih detil, diperlukan usaha kita untuk menumbuhkan keyakinan yang lebih dalam lagi tentang Islam. Supaya efeknya bisa kita rasakan dengan baik, yakni berupa rasa bangga menjadi muslim.

Kata pepatah kan , “Tak kenal maka tak sayang.” Tak kenal banyak, maka tak sayang banget. Sebab, kayaknya ini seperti deret ukur. Kalo kita baru sampe mengukur di batas tertentu, maka sebatas itu pula rasa yang kita miliki. Nah, rasa-rasanya memang harus terus ditingkatkan biar lebih merasa yakin dan mantap. Makin banyak yang kita tahu dari Islam, maka akan makin kuat dan makin yakin kita dengan Islam. Tumbuh juga rasa percaya diri yang besar dalam kehidupan kita. Itu sebabnya, ketika ada orang yang udah melatih ilmu bela dirinya sedemikian rupa, maka akan tumbuh keyakinan bahwa dirinya bisa pantas untuk percaya diri karena udah berhasil menguasai banyak jurus olah kanuragan tersebut.

Jangan termakan gosip murahan

Bro en Sis, gosip murahan tentang Islam bisa bikin semangat kita melempem kalo kita termakan provokasinya. Kayak apa sih gosip murahan tentang Islam? Hmm… mungkin kalo kamu sering diskusi dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda; budaya, politik, tingkat pendidikan, intelektualitasnya, niatnya dan lain sebagainya, akan timbul rasa bimbang tentang Islam karena seringkali diskusi itu menyebarkan gosip murahan yang sengaja disebarkan untuk melemahkan pemahaman kaum Muslimin dan akhirnya menjatuhkan semangat kaum Muslimin dalam memperjuangkan Islam.

Seperti misalnya ada gosip (namanya juga gosip, pasti nggak benar. Seharusnya jangan percaya ya), bahwa Muhammad Rasulullah saw. adalah ‘tukang kawin’ dan merendahkan derajat wanita. Waduh, nih tuduhan dan gosip murahan banget dan udah sangat melecehkan. Kalo kita percaya gosip beginian, berarti kita lebih rendah lagi. Jangan percaya, Bro.

Selain ‘gosip murahan’ yang disebar untuk melemahkan kaum muslim, juga musuh-musuh Islam melakukan pengkaburan istilah. Misalnya provokasi yang disebar tentang definisi jihad. Kaum muslimin diminta untuk memahami jihad dalam arti bukan perang, tapi diarahkan kepada pengertian bahwa jihad adalah sungguh-sungguh dalam berusaha dan beramal. Nah, ini juga bakalan melemahkan semangat kita dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Padahal, kalo kita tahu ilmunya, nggak bakalan bingung.

Sekadar tahu aja nih, secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da). Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (an-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).

Adapun dalam pengertian syar’i (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).

Bayangin deh kalo jihad diartikan sekadar secara bahasa, kayaknya nggak bakalan ada upaya dari kaum Muslimin untuk melakukan jihad secara ofensif dalam rangka menyebarkan Islam. Padahal, Rasulullah saw. udah nyontohin dengan melakukan ekspedisi militer ke berbagai tempat. Para sahabat Rasulullah saw. juga melakukan hal yang sama, bahkan para penerus berikutnya seperti Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol dan menyebarkan dakwah Islam di sana.

Selain itu, media massa juga seringkali ngelakuin “penghakiman” terhadap Islam dan umat Islam dengan menghubung-hubungkan bahwa para bomber yang melakukan peledakan di Indonesia selama ini (termasuk yang baru-baru ini, 17 Juli 2009 yang meledak di JW Marriott dan Ritz Carlton), adalah orang-orang Islam dari kelompok tertentu. Halah, itu sih lagu lama yang diputer ulang. Kagak bosen apa ya orang-orang kok menuduh begitu rupa. Padahal, bukti-buktinya saja belum jelas. Ini memang ada targetnya, yakni melemahkan semangat seluruh kaum muslimin dalam mengamalkan ajaran Islam. Soalnya, di media massa sosok teroris itu digambarkan dari kalangan Islam, baik, dan taat beribadah. Hmm.. ini jelas labelisasi yang nggak bener.

So, kalo kita udah kenal dengan Islam lebih banyak lagi, gosip murahan model gini pasti nggak mempan buat melemahkan pemahaman kita. Sebab, kita udah punya patokan. Intinya, jangan tergoda gosip atawa provokasi yang bakalan melemahkan keyakinan dan pemahaman kamu tentang Islam. Itu sebabnya, wajib mengenali Islam lebih dalam lagi. Jadi, belajar yang rajin bin getol ye.

Ciptakan terus rasa penasaran

Menciptakan rasa penasaran ini emang bagian dari upaya kita untuk bertanya dan bertanya dalam belajar kita. Kalo kita cukup puas dengan ilmu yang kita dapetin, kayaknya proses mengenali Islam jadi terhenti sampe di tempat kita mengenalnya. Nggak nerus. Padahal, belajar tuh harus terus dilakukan selama hayat masih dikandung badan. Itu sebabnya, resepnya adalah dengan senantiasa menumbuhkan rasa penasaran kita yang besar untuk mengenal Islam lebih dalam lagi. Nggak cuma puas berenang di permukaan, tapi rasanya kudu mulai mencoba menyelam. Karena sangat boleh jadi banyak banget informasi yang bisa kita jadikan sebagai wawasan kita dalam memahami dan mengamalkan Islam. Ujungnya, kita jadi bangga dong dengan kemusliman kita sendiri. Oke?

Seperti halnya kita belajar naik sepeda, rasa penasaran kita yang besar untuk bisa naik sepeda, insya Allah akan membawa hasil berupa kelihaian kita mengendarai sepeda. Begitu pun rasa penasaran kita dalam mengkaji ilmu, maka ilmu itu akan kita pelajari dengan seksama dan penuh semangat, sehingga bukan tak mungkin kalo kita akhirnya bisa memahami dan tumbuh keyakinan yang besar dalam diri kita.

Jadi, ciptakan terus rasa penasaran kamu tentang Islam agar tetap terjaga semangat kamu dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam. Saya sendiri, meski sudah sering belajar tentang Islam, rasanya semakin sering belajar Islam saya merasakan bahwa apa yang saya dapatkan selama ini masih kurang, akhirnya terus penasaran pengen nyari tahu lebih detil. Proses belajar memang harus senantiasa dilakukan agar kita tetap merasa untuk terus memperbaiki kualitas hidup kita. Rasa penasaran yang kita miliki tentang Islam, insya Allah akan memberikan kekuatan kita untuk belajar dan terus memahami Islam sampai detil. Tentunya, itu akan memberikan rasa percaya diri kita yang tebal. Wajar banget kalo kita bangga jadi muslim.

Obyektif sekaligus subyektif

Sobat, dalam memahami realitas kehidupan memang harus obyektif. Kita telusuri semua faktanya supaya kita kenal betul dengan fakta tersebut. Kita memang nggak suka dengan fakta yang menjelekkan Islam, tapi kita coba tahan dulu benci binti murka kita sebelum dapetin info yang benar-benar valid dan obyektif agar kita bisa menilai dengan keputusan yang jelas.

Nah, kalo pun kita harus subyektif dalam waktu yang bersamaan, tentunya ini pun harus dilakukan karena sebagai muslim, kita wajib menilai segala sesuatunya berdasarkan sudut pandang Islam. Itu mutlak harus dilakukan karena Islam adalah pedoman hidup kita. Islam adalah the way of life. Jadi wajar banget kan kalo Islam menjadi patokan kita dalam menilai suatu pemikiran atau perbuatan. Mengenali dan memahami fakta memang harus obyektif, tapi sudut pandang kudu subyektif dong, yakni berdasarkan Islam.

Sehingga nggak muncul mispersepsi atau celakanya malah menyalahkan Islam. Padahal mah bisa jadi justru karena kita  sendiri yang salah memahami fakta dan sekaligus solusinya. Misalnya nih, untuk memahami agama di luar Islam, tentunya kita harus memahami faktanya dengan detil tentang agama tersebut, lalu kita nilai dengan Islam. Begitu pun ketika ingin memahami fakta sekularisme, maka kita kumpulkan segala informasi yang berkaitan dengan sekularisme supaya obyektif, setelah itu baru kita nilai sekularisme dalam sudut pandang Islam, bukan yang lain.

Tentu akan aneh dong ya kalo memandang Islam dari sudut pandang sekularisme atau ajaran Barat, maka yang tampak bukan wajah asli Islam. Kalo pun bikin lukisan, tuh lukisan udah dicorat-coret dengan nggak karu-karuan sesuka mereka mencoretkan warna dan garis pada kanvas. Inilah alasannya bahwa upaya pencarian fakta boleh seobyektif mungkin, tapi sudut pandang penilaian tetap harus Islam.

Berkaitan dengan soal ini, Ustadz Hamid Fahmy menuliskan (lihat Islamia, Tahun I No. 6/Juli-September 2005, hlm. 118-119), dalam kajian Islam, suatu framework atau manhaj terkait pertama-tama dengan proses mencari, mencerna dan mengamalkan ilmu. Suatu ‘metobalisme’ dalam nutrisi spiritual. Kualitas ilmu, cara mencari, sumber ilmu yang benar, penalaran yang betul, manfaat yang jelas merupakan sebahagian dari bangunan framework. Jika ilmu itu cahaya al-haqq, seperti kata Waqi’ guru Imam Syafi’i, maka ilmu dan iman sumbernya sama. Siapa yang banyak ilmu mesti tebal imannya dan sebaliknya. Ia akan berilmu dengan imannya dan beriman dengan ilmunya.

Inilah alasannya mengapa kita harus obyektif tapi sekaligus subyektif. Alam pikiran kita boleh melanglangbuana kemana aja untuk mendapatkan fakta yang obyektif tentang segala hal, tapi al-Quran dan as-Sunnah tetap menjadi obornya. Sehingga kita tetap menjadi orang yang mencintai Islam sepenuh hati dan insya Allah akan memberikan dorongan yang kuat agar kita bangga menjadi muslim. Oke?

Pahami Islam dari sudut pandang Islam

Nah, ini juga perlu dan wajib kita lakukan. Karena nggak mungkin dong kita akan memahami Islam tapi menggunakan kacamata Barat atau kacamata sekularisme. Itu sama artinya nggak bakalan nemuin kejelasan. Kalo memahami Islam, wajib dari sudut pandang Islam.

Jadi nih, kalo ada yang bilang bahwa Islam itu bias gender karena nggak menghargai wanita, tapi melihatnya dari sudut pandang sekularisme atau peradaban Barat, ya itu namanya tulalit. Apalagi kalo kemudian kita kepancing menjelekkan Islam karena menggunakan kerangka berpikir Barat. Wah, jangan sampe deh.

Kalo ada yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama, tuhannya sama, yang beda hanyalah namaNya, itu pasti berpikir bukan dari sudut pandang Islam.

Lalu mereka yang berpikiran begitu rame-rame mengatakan bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang benar. Walah, ini sih udah ngaco banget deh. Mungkin mereka kudu diingatkan dengan pernyataan Prof. Hamka, “yang bilang semua agama sama berarti tidak beragama”. Nah lho, ati-ati tuh.

Sobat muda muslim, kalo ada seorang ulama atau intelektual Muslim yang menganggap bahwa Islam sudah saatnya disegarkan kembali dan harus ditafsirkan sesuai akal modern, saya sangat yakin kalo tuh orang nggak memahami Islam yang sempurna ini (atau pura-pura nggak tahu?) dan jelas cara berpikirnya bukan dari sudut pandang Islam.

Padahal, Islam sudah jelas disempurnakan oleh Allah. Itu artinya cuma Islam yang benar. Nggak ada kebenaran lain selain agama Islam ini. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah [5]: 3)

Itu sebabnya, kalo ada yang mengaku Muslim tapi ketika berpikir dan berbuat bukan berlandaskan Islam, itu namanya error. Ngakunya muslim, tapi gaul bebas dan seks bebas jadi gaya hidupnya. Ngakunya Muslim tapi menolak sebagian ajaran Islam. Bahkan kemana-mana teriak bahwa nggak ada yang tahu kebenaran selain Allah. Sambil menyanyikan penolakan terhadap syariat, fikih, tafsir wahyu, dan ijtihad para ulama karena semua itu hasil pemahaman manusia. Menurut mereka itu relatif. Waaah, itu bener-bener kacau, bro! Karena seharusnya seorang Muslim hidupnya berpatokan kepada ajaran Islam, bukan kepada ajaran yang lain. Termasuk ketika memahami Islam, ya harus dari sudut pandang Islam. Bukan yang lain.

Sobat muda muslim, semoga kita mulai bisa memahami Islam sebagai pandangan hidup kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan Islam. Agar kehidupan kita juga lebih tenang, lebih yakin, dan tentunya penuh percaya diri dan bangga menjadi Muslim. Satu-satunya cara untuk mengenal Islam lebih dalam dan lebih jauh lagi hanya dengan belajar. Jadi, mulai sekarang, kita kudu giat belajar apa saja, terutama mengkaji Islam. Enjoy, Bro!

APA ITU PACARAN???

Hmm.. dari judulnya aja udah pastinya seru dibahas nih, apalagi kalo udah ngomongin cinta-cintaan nggak bakalan ada habisnya buat dibahas. Dari jaman baheula sampe sekarang yang namanya cinta selalu seru untuk diobrolin. Lihat deh acara-acara di tivi kebanyakan tentang percintaan. Nggak ketinggalan majalah remaja, tabloid, novel, sinetron, film layar lebar sampai reality show semua isinya percintaan. Kalo masih kurang lagu-lagu anak band sekarang tidak jauh dari lirik-lirik cinta. So, nilai jual cinta nggak bakalan turun (jiaaah, cinta kok dijual?). Termasuk tulisan ini juga akan membahas tema yang sama. Tapi sudut pandangnya Islam, karena saya seorang muslim.

Bro en Sis, cinta itu anugerah. Dateng gitu aja, tiba-tiba muncul tanpa diundang (dah kayak jalangkung!). Nggak peduli tua atau muda, cantik atau jelek, ganteng atau tampan (loh? Curang nih cow) love doesn’t know difference deh. Contoh cowok kalo udah suka sama cewe, bisa lupa segalanya, mulai dari ngelamun, ketawa sendiri (cinta gila kali ya?) sampe rela ngelakuin apa aja demi ceweknya. Padahal bisa aja dimanfaatin, aji mumpung jalan kemana aja dibayarin, dari makan sampai nonton. Ini cewek matre atau sekadar numpang makan (ngirit banget lo!). Atau mungkin dia punya prinsip “seefesien mungkin”. Kalo ada yang gratisan kenapa nggak? Pletak!

Wadooh, yang ceweknya nggak pada empati tuh, kali aja si cowok udah mati-matian nabung sebulan penuh, sampe hutang kanan-kiri juga kali ya? (nah loh ada yang kesendir tuh ya? Hehe…) Tapi kalo sampe para cewek dituduh matre or numpang makan doang, kayaknya cewek-cewek pada nggak setuju nih. But, tenang Sis. Nggak semua cewe kayak gitu kok (Jiaaah, pembelaan ini cuma contoh takutnya gue dicakar-cakar sama cewek-cewek, peace).

Eh, ada yang protes nggak kalo masalah pacaran dikaitkan dengan Islam? Biasanya kalo protes itu mikirnya gini: “Yang penting kan ibadahnya? Ngapain kudu disangkut-pautkan dengan Islam. Pacaran aja selama itu nggak ganggu orang lain dan nggak sampe berzina”. Hmm…

Bro, Islam udah ngasih aturan yang jelas, harusnya kita bisa menerima Islam dengan sepenuhnya, bukan cuma sebatas ritualnya aja atau dijadikan formalitas aja. Aturannya menyangkut semua hal, mulai dari aturan negara sampai aturan untuk individu. Jangan sampe di antara kamu ada yang rajin ngaji, sholat juga nggak ketinggalan, tapi maksiat tetep jalan. Hadduch.. STMJ tuh mah (Sholat Terus Maksiat Jalan). Sholat sih sholat, tapi soal maming alias Malam Mingguan kamu ngerasa wajib untuk hadir ke rumah pacar kamu. Niat ngapel sambil pamit sama ortu si pacar, mau ngajak jalan-jalan cari udara segar (cari aja oksigen di rumah sakit, lagi bengek kali tuh!). Intinya supaya bisa berdua aja.

Oya, ada juga tuh temen kita yang beralibi alais ngasih alasan bahwa pacaran yang mereka lakukan itu islami. Mereka sepakat putus sementara kalo datang bulan Ramadahn. Nanti abis Ramadhan disambung lagi (waduuuh, ngarep banget ya buat melegalkan pacaran?). Kalo gitu ngerampok secara islami ada juga kali ya, cuma ngerampok orang kaya yang pelit en pejabat korup (dah kayak Robin Hood dong? Asal deh lo!).

Gaul Cara Islam

Bro en Sis, Allah Swt. udah berfirman (yang artinya):“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra [17]: 32)

Tuh, bukan cuma zinanya aja yang haram, tapi mendekati zina saja sudah dilarang. Pacaran identik dengan berkumpul antara lawan jenis. Istilahnya berkhalwat dengan yang bukan mahrammnya, dalam Islam tentu diharamkan karena bisa menjerumus ke dalam kemaksiatan en yang lebih parah berzina. Kalo mau plesetin omongannya Bang Napi jaman dulu (masih pada inget kan?). Yup, Bang Samsi (eh, Bang Napi) bilang: “Inget, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan.” Bener banget. Kalo udah berudua-duaan yang ketiganya adalah setan. Hati-hati kalo sampe satpol PP juga ikut pantau. Kegiatan kamu bakalan diintip dan didiemin dulu biar ketangkep basah (nah loh pengalaman sapa tuch?) Soalnya, kalo udah terpancing sama hawa nafsu setan, gampang banget tuh ngegodainya, istilahnya tinggal tunggu jam tayang (dah kayak nonton bioskop aja tuh).

Bro, sebelum sampe berdua-duaan dengan lawan jenis, di awal-awal hubungan dengan lawan jenis udah diatur dengan baik lho dalam Islam. Supaya kejadian maksiat itu bisa dicegah karena peluangnya diminimalisir. Allah Swt. udah berfirman (yang artinya): “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…’.” (QS an-Nuur [24]: 30–31)

So, menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan. Nggak dilepas gitu aja tanpa kendali yang memungkinkan bakal merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan bisa dibilang terpelihara jika secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.

Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi saw. bersabda yang artinya, “Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tanganNya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.”

Juga dalam hadis yang lain. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan. Ati-ati! Waspadalah!

Bor en Sis, dalam Islam nggak ada istilah pacaran, karena pada dasarnya aturan pergaulan dalam Islam adalah infishol alias “terpisah” dalam arti begini: cowok atau cewek hanya bergaul akrab dengan sejenisnya atau para mahram. Berhubungan dengan lawan jenis hanya masalah mu’amalah (bisnis, seperti di pasar antara penjual dan pembeli), pendidikan (seperti antara guru dengan murid atau dosen sama mahasiswanya) juga dalam masalah kesehatan (konsultasi dokter dengan pasiennya dan sejenisnya). Yang semuanya harus tetap sayr’i.

Soal tempat khusus dan tempat umum

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS an-Nuur [24]: 27-28)

Bro en Sis, kamu perlu tahu nih tempat atau kondisi yang berkenaan dengan pergaulan antara cowok dan cewek yang bukan mahram.

Pertama, tempat yang kita tidak memerlukan izin pada saat masuk/melihat (contoh :lapangan, rumah sakit, Pasar, dll). Kedua, tempat khusus (tempat yang jika kita ingin masuk atau melihat maka diwajibkan untuk meminta izin, contoh: kamar mandi rumah, mobil pribadi, ruangan pribadi dan sejenisnya).

Terus nih, yang harus diperhatikan dalam pergaulan adalah soal istilah: Pertama, ij’tima, yakni berkumpul, tapi tidak ada interaksi. Kedua, a’laqoh, yakni interaksi, tapi nggak berkumpul (contohnya telepon, chatting online, SMS-an, kirim-kirim e-mail dan sejenisnya). Ketiga, ikhtilat, yakni berkumpul dan beriteraksi (dan yang dibolehkan bagi yang bukan mahram adalah hanya dalam masalah mu’amalat, pendidikan, dan kesehatan)

Oya, saya mau cerita dikit. Pernah tuh saya beda pendapat mengenai status hukum pacaran sama temen sendiri. Saya nggak setuju pacaran, bukan karena saya nggak laku buat pacaran, tapi karena banyak yang nolak sih hehe… (nggak ding, emang saya udah tahu hukumnya pacaran nggak boleh menurut ajaran Islam). Saya menolak pacaran bukan juga untuk nyuruh dia putus sama pacarnya, cuma pengen ngajak berfikir aja. Sampe pada klimaksnya dia bilang ke saya: “Kalo gaya hidup kamu kayak gitu mending nggak usah hidup di Indonesia aja!” Wadduh…. nggak nyangka temen saya ngomong begitu. sampe akhirnya gue jawab “Sory friend, aku hidup di bumi Allah Swt. Kalo kamu nggak setuju sama aturan Allah mending pergi aja dari bumi Allah”. Halah, saya spontan komen gitu. Sempet terfikir itu emosi saya yang menjawab kali ye? Tapi ya udahlah. So, saya udah mencoba untuk tegas walaupun saya masih belajar dalam mentaati semua aturan Islam.

Pacaran nggak cuma mereka yang masih bujangan dan gadis aja, tapi dari usia akil balig sampai kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja. Betul apa bener?

Islam ngatur hubungan antar lawan jenis

Oya, bukan berarti nggak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami)

Selain hal tersebut di atas, baik itu hubungan teman, pergaulan laki-laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta.

Bro en sis, bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki/perempuan yang bukan mahram, tetapi kita diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Kalau masih pengen juga, kamu kudu ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki kamu dan kamu harus menutup auart masing-masing agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam. Tapi ini bukan dalam rangka pacaran, lho. Ya, sekadar bertemu untuk pendidikan atau dakwah, muamalah dan kesehatan. Oke?

Percayalah, jodoh itu Allah Ta’ala yang ngatur. Nggak usah maksain sampe pacaran segala. Ada cerita nih, dari guru ngaji gue sih (minta izin ngutip ya pak.. hehe). Jadi ada cowok-cewek yang udah kepalang pacaran en cinta banget. Ketika mereka dalam pengajian, dibahas tuh masalah pacaran kayak gini. Singkat cerita mereka putus, “demi Islam kita putus aja yach…” katanya. Wah dilema banget emang ya? (cinta deritanya tiada akhir.. hwaach dasar Patkai).

Emang berat en nggak gampang tuh ambil keputusan habis udah cinta mati. Sampe semboyannya aja: “I love you teu eureun-eureun” (gotong royong aja kali ya biar nggak berat). Tapi kemudian mereka iklhas menerima keputusannya. Berlanjut sampe mereka dewasa. Atas ijin Allah mereka dipertemukan kembali, karena ortunya udah saling kenal juga, akhirnya mereka menikah. Wah…wah pastinya bahagia banget mereka. Gimana Bro, mau, mau mau? Kalo udah siap jangan tunggu lama-lama buat ngehindar dari maksiat en fitnah lanjutkan ke pernikahan (lebih cepat lebih baik, kita mah pro syariat Islam!).

BTW, tapi kan nggak segampang yang saya omongin ya? Kata Bang Thufail al-Ghifari sih “nikah itu Jihad yang aduhai” (cit..cwiw!). So, bukankah kalo pengen serius jalin hubungan, emang tujuannya menikah? (loh kok jadi ngomongin nikah? Curhatan saya nih kayaknya. Watau!)

Bukti cinta sejati

Bro en Sis, Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): “Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu: memilih kalam kekasihnya (al-Qu’an) daripada kalam lainNya (hasil produk manusia); memilih bergaul dengan kekasihNya daripada bergaul dengan yang lain; memilih keridhaan kekasihNya daripada keridhaan yang lain.”

Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, ia menjadi hambanya. Yahya bin Mu’adz berhubungan dengan pengertian ini mengatakan: “Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.”

Nah, kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti kawin alias nikah. Nggak apa-apa kok masih muda juga asal udah mantap mentalnya, kuat ilmunya, dan cukup materinya. Tapi kalo ngerasa belum mampu, ya wis kamu kudu rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsumu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Main gim? Halah, bolehlah asal jangan kebablasan! Tapi, daripada main gim mending baca al-Quran atau nulis kayak saya nih di buletin gaulislam. Insya Allah lebih oke. Sip kan ?

Bro en Sis, hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Itu sebabnya, yuk kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah Swt. agar diberi kekuatan untuk menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau? Mau doooong! Semoga Allah menolong kita, amin. Jadi, tetep mau pacaran? Nggak, Ah!

Menyiapkan Pendidikan Anti Terorisme

Pasca tragedi Bom Bali I, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia. Label terorisme secara serta merta distigmakan kepada Indonesia , yang merupakan Negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Belakangan diketahui bahwa motif pengeboman adalah jihad melawan orang-orang kafir Amerika dan Australia .

Seakan mengamini apa yang pernah ditesiskan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya clash of civilization( benturan antar perdaban), bahwa pasca perang dingin antara Kapitalisme versus Sosialisme, konflik tidak lagi terjadi antar Negara, ideology, kepentingan, ekonomi dan politik. Namun konflik yang akan terjadi jauh lebih besar lingkupnya, yakni konflik antar peradaban. Secara tegas, Huntington menghadap-hadapkan antara 3 peradaban besar yang ada di dunia, yaitu peradaban Islam dan konfusianisme melawan peradban Barat WSAP (White Anglo Saxon Protestan). Dan fenomena terorisme yang akhir-akhir ini marak terjadi, ditengarai merupakan bagian dari benturan peradaban tersebut.

Terlepas dari kebenaran tesis Huntington tersebut, yang jelas terorisme yang dilakukan oleh sekolompok orang dengan dalih agama, tidak bisa dibenarkan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan anti kekerasan. Tujuan diturunkannya Islam ke dunia ini, tidak lain adalah untuk misi perdamaian semesta alam (Q.S. al-anbiya’:107). Dan secara historis, interaksi sosial ummat Islam di bumi Nusantara ini sudah terjalin selama berabad-abad lamanya. Itu artinya bangsa Indonesia adalah bangsa multicultural, yang senantiasa hidup bersama dengan damai.

Terorisme dalam pespektif agama apapun tidak bisa dibenakan. Karena hakekat agama pada dasarnya adalah membimbing ummatnya menuju kedamaian. Kekerasan dan terorisme adalah musuh agama yang harus diperangi. Terorisme adalah manifestasi dari penistaan ajaran agama.

Dari sini, terorisme dan semua jenis kekerasan harus dijauhi dan dihindari. Generasi muda masa depan harus dipahamkan dengan bahaya-bahaya terorisme yang merusak tatanan kedamaian. Pendidikan merupakan upaya yang dirasa efektif untuk membekali generasi muda tersebut, sehingga mampu menghindarkan diri mereka dari perilaku terorisme. Melalui pendidikan, generasi muda disadarkan akan pentingnya semangat kebersamaan dan kedamaan. Kekerasan dalam bentuk apapun dan dengan dalih apapun harus dihindari dan diberantas. Sikap terorisme adalah musuh bersama ummat beragama dan masyarakat berbangsa.

Membangun Sikap Toleransi

Terorisme dengan kedok agama adalah bentuk dari pemahaman keagamaan yang picik dan dangkal. Menganggap orang lain sesat dan salah adalah sikap egois yang tidak berdasar. Agama pada dasarnya mengajarkan pada kebaikan dan membimbing umatnya menuju keselamatan. Dari sini, sangat tidak beralasan jika agama merintahkan ummatnya untuk saling menyerang ummat agama lain, apalagi jika sampai pada penghilangan nyawa manusia.

Sikap toreransi dalam hal ini menjadi prasyarat terwujudnya kedamaian antar umat manusia. Jika semua agama mengajarkan pada nilai kebaikan, maka kita harus menghargai penganut agama tersebut. Prilaku menyimpang yang dilakukan oleh ummat beragama bukan kemudian melegalkan tindakan kita untuk membenarkan secara paksa. Karena selain kebenaran itu bersifat rekatif, kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi hukum. Tindakan semena-mena dan main hakim sendiri dalam hal ini tidak bisa dibenarkan secara hukum.

Terorisme hanya akan menambah masalah, bukan menjadi solusi atas masalah tersebut. Perilaku terorisme oleh sekelompok orang adalah bukti kepongahan dan keegoan sepihak. Mereka tidak lain adalah orang-orang yang hanya akan membawa kehancuran bagi ummat manusia. Dan sampai derajat tertentu, mereka inilah sebenarnya yang merupakan musuh Islam, bukan pembela Islam.


Kurikulum Anti Terorisme

Mata pelajaran moral dan kewarganegaran yang ada, selama ini lebih bersifat normatif dan teoritis. Di dalamnya hanya mengisyaratkan nilai-nilai ideal yang jauh dari realitas sosial empiris. Sehingga kaitannya dengan hal ini, perlu disegarkan kembali, dalam rangka mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang bermoral tinggi, dan warga Negara yang beradab. Penyegaran tersebut dapat diartikan dengan memasukkan sebuah format mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan riil yang ada. Kaitannya dengan realitas terorisme dan dalam rangka mengantisipasinya, maka kurikulum anti terorisme dalam hal ini perlu mejadi wahana penyegaran tersebut. Artinya, kurikulum yang berorientasi anti terorisme dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Penerapan tersebut, dalam hal ini bisa dengan memasukkan dalam silabi mata pelajaran moral dan kewargaan. Atau jika memang diperlukan, bisa dijadikan mata pelajaran tersendiri yang integral. Sehingga peserta didik dalam hal ini mendapatkan bekal yang cukup dalam konteks pribadi yang anti terhadap terorisme dalam bentuk apapun.

Gagasan ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang melangit, mengingat pola Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang meniscayakan KTSP sebagai model kurikulumnya. Sehingga pendidikan anti terorisme dalam hal ini bisa dimasukkan dalam muatan lokal, disesuaikan dengan kubutuhan sekolah. Ke depan, masa depan bangsa berada di tangan generasa muda saat ini. Corak sikap dan perilaku para manusia masa depan, dibangun saat ini melalui pendidikan. Dengan memasukkan pendidikan anti terorisme ke dalam pendidikan mereka, diharapkan mampu membekali mereka dengan sikap toleransi, yang menolak keras segala bentuk terorisme. Hingga pada akhirnya, kita akan menjadi bangsa yang cinta damai, mampu hidup bersama dalam keragaman dengan kedamaian dan anti kekerasan.

Jumat, 04 November 2011

ISLAM ANTI TERORIS

ISLAM BUKAN TERORIS

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
TERORIS berasal dari bahasa Inggris, yaitu: "Terror", yang berarti  "Mengerikan, menyeramkan, menakutkan", kalau disebut Teroris itu artinya 'Pihak yang membuat hal yang mengerikan,menyeramkan atau menakutkan". Bila disebut "Terror Bom" itu  berarti  " Memepergunakan bom untuk menciptakan kengerian".

Adapun tujuan dari para teroris itu melakukan terror adalah menakut-nakuti atau bikin kerugian pada pihak musuhnya atau bikin musuhnya menjadi kapok dan dengan harapan agar musuh tersebut berhenti melakukan kejahatannya. Seperti para terroris yang membom fasilitas-fasilitas Amerika, mereka berharap dengan pemboman itu Pemerintah Amerika takut dan menghentikan kejahatannya di dunia Islam, menghentikan dukungannya terhadap zionis Israil yang membunuh orang-orang Palestina, dsb.  Namun apakah usaha membom seperti  itu dipandang efektif dan dapatkah cara terror itu dipandang sebagai jihad fi sabilillah, dan apakah terror itu merupakan bagian  perang  yang dibenarkan dalam Islam?     
Jawabannya kita harus kembali kepada koridor hukum Islam. Bahwa  perang di dalam Islam itu mempunyai Etika. Mempunyai Akhlak Perang, antara lain:
  1. Perempuan dan anak-anak tidak boleh diganggu (dibunuh), kecuali kalau mereka merusak, seperti sebagai mata-mata.
  2. Orang tua yang tidak lagi kuat berperang juga tidak boleh diganggu atau disakiti, kecuali dia ahli politik, pandai tentang seluk beluk peperangan, atau orang yang berpengaruh yang berbahaya bagi Islam, maka di saat perang berlangsung dibenarkan dia untuk dibunuh.
  3. Utusan musuh yang resmi datang kepada kita tidak boleh diganggu, karena suatu ketika pernah utusan musuh datang kepada Rasulullah saw, dan beliau tidak mengganggunya.
  4. Musuh yang belum sampai kepadanya seruan Islam tidak boleh diperangi.
  5. Orang non Islam yang tidak memusuhi Islam tidak boleh diperangi.
  6. Dsb.

TUJUAN PERANG

Tujuan perang di dalam Islam bukan untuk membunuh manusia, tapi ingin menghancurkan kebatilan dan kesewenang-wenangan  pihak musuh. Islam tidak akan memerangi orang yang tidak memeranginya. Rasulullah dan para sahabat pada waktu dahulu, berperang bukan karena mencari kekuasaan, tapi karena ummat Islam pada waktu itu selalu dizolimi, dikejar-kejar, diintimidasi bahkan telah banyak dibunuh oleh kafir Quraisy. Bukankah kita sama tahu dengan sejarah, bahwa rasulullah di usir di Thaif, akhirnya kembali ke Makkah, tidak berapa lama kemudian Rasulullah dan para sahabat di Makkah pun dikejar-kejar. Akhirnya terpaksa pindah  (hijrah) ke Madinah, bahkan setelah di Madinah pun, Kafir Makkah menyerang.  Siapa yang bisa sabar dengan penganiayaan seperti itu. Adalah wajar kalau Rasulullah dan para sahabat melakukan perlawanan.

Mengingat bahaya laten dari orang-orang kafir, yang makin hari semakin meningkatkan kebencian dan permusuhannya kepada Islam, yang dikhawatirkan pada suatu saat akan menghancurkan Islam, maka Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk memperluas peperangan, Perlawanan orang-orang kafir harus diredam, jangan sampai mereka pandang enteng kepada Islam, hal itu disetujui oleh Allah SWT ;

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ(193)
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada lagi fitnah (bahaya laten) dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah :193)
    
Jadi Rasulullah dan para sahabat berperang bukan dengan tujuan membunuh kafir quraisy tapi  agar mereka tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari. Agar mereka tidak lagi berbuat sewenang wenang. Agar mereka menghormati hak-hak orang lain, meskipun berbeda agama dengannya.
Agar berperang itu tidak lari dari tujuan pokoknya, Allah swt. memberikan pedoman lagi: 

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(190)
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Baqarah: 190)
    
Dalam sejarah peperangan di zaman Rasulullah, telah terjadi peperangan sebanyak 80 kali. Menurut Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'aad :
Jadi Rasulullah dan para sahabat berperang bukan dengan tujuan membunuh kafir quraisy tapi  agar mereka tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari. Agar mereka tidak lagi berbuat sewenang wenang. Agar mereka menghormati hak-hak orang lain, meskipun berbeda agama dengannya.
Agar berperang itu tidak lari dari tujuan pokoknya, Allah swt. memberikan pedoman lagi: 

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(190)
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Baqarah: 190)
Dalam sejarah peperangan di zaman Rasulullah, telah terjadi peperangan sebanyak 80 kali. Menurut Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'aad : “Perang yang diikuti nabi sendiri berjumlah 20 kali peperangan. Disamping itu ada pula patroli pengamanan atau perang kecil-kecilan yang semuanya berjumlah 60 kali.

Menurut Ahli sejarah, Al-Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshuur Fauri dalam juz kedua dari kitabnya yang berjudul “Rahmatan lil 'Alamin” menyebutkan bahwa dari 80 kali peperangan itu  korban yang terbunuh dari kedua belah pihak, hanya 1018 orang saja.
        
Bandingkan dengan manusia yang terbunuh pada perang dunia pertama 1914-1918, menurut Encyclopaedia Britanica, manusia terbunuh 6.400.000 jiwa. Pada perang dunia kedua 1939-1945, manusia terbunuh antara 35 juta s/d 60 jutaan. Kedua perang itu tidak mendatangkan kebaikan apapun terhadap kemanusiaan, tapi 100% kecelakaan buat manusia.
    
Beda dengan konsep Islam , bahwa perang menurut konsep Islam  bukan ingin menghilangkan nyawa musuh. Islam berusaha menekan sekecil mungkin terbunuhnya manusia. Bahkan sering beberapa perang yang terjadi, tanpa ada yang terbunuh. Pihak musuh minta berdamai. Rasulullah bikin perjanjian dengan mereka untuk tidak saling menyerang. Namun kebanyakan orang-orang kafir itu  melanggar perjanjian yang sudah disepakati itu, akhirnya Allah swt menegaskan :

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.(At-Taubah:12)
    
Jadi dalam ayat ini menekankan bahwa yang diperangi itu harus difokuskan kepada pemimpin-pemimpinnya, karena keputusan melanggar perjanjian itu tergantung pemimpin-pemimpin mereka. Kalau pemimpin-pemimpin mereka memutuskan damai, rakyatnya tentu akan menta'ati. Tapi karena pemimpinnya bikin pelanggaran, sudah barang tentu mereka yang yang utama untuk diperangi.
    
Jadi kalau ada orang atau pihak tertentu tidak senang dengan Amerika, jangan dibunuh rakyatnya. Karena rakyatnya tidak tahu apa-apa. Yang dibunuh adalah pemimpinnya. Kalau rakyatnya yang di Indonesia yang di bom, maka yang mati bukan rakyat Amerika saja, akan tetapi orang-orang tak berdosa  yang tak tahu apa-apa pun ikut mati, ikut jadi korban. Berapa banyaknya perempuan dan anak-anak yang mati gara-gara terror bom itu. Bahkan yang mati itu banyak yang beragama Islam. Jangan cari alasan, matinya umat islam itu tidak disengaja, tidak ditargetkan. Nyatanya setiap bom meledak umat Islam ada yang mati. Ingatlah firman Allah :

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا 
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (Al-Maidah:3)
Muhammad di utus bukan melahirkan teroris, Muhammad diutus memberi ramat keseluruh dunia.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. -(Al-Anbiya' :107)
Rasulullah telah membuktikan, bahwa dia memang berakhlak mulia. Oleh sebab itu jangan cemari Islam itu dengan kekerasan. Tapi bangunlah citra Islam itu dengan kasih sayang. Kalau kita suka membunuh, maka nilai kita sama saja dengan orang kafir di zaman Rasulullah dahulu, yang suka membunuh dan bebuat zholim . Api tidak dapat dipadamkan dengan api, tapi api dapat dipadamkan dengan air.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah:122)
    
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (Muhammad:4)

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا(90
 Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. (An-Nisa':90)

وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ\
Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa':92)

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا(93)
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(An-Nisa':93)